Sepatu Jarang Dipakai, Mengapa Solnya Justru Bisa Hancur?

Sol sepatu tertentu dapat rapuh meski jarang digunakan. Pahami hidrolisis poliuretan, pengaruh penyimpanan lembap, dan cara memeriksa sepatu lama.

MATERIAL DAN WAKTU
Foto detail sepatu lama yang telah menunjukkan tanda pemakaian; kondisi bahan sol perlu diperiksa sebelum kembali digunakan.

Sepatu Jarang Dipakai, Mengapa Solnya Justru Bisa Hancur?

Sepasang sepatu disimpan untuk acara khusus. Kotaknya masih rapi, bagian atasnya bersih, dan tapaknya hampir tidak aus. Setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun, pemiliknya memakainya kembali. Baru beberapa langkah, bagian sol terasa aneh. Ada yang retak, ada yang terkelupas seperti remah, bahkan ada yang terpisah dari badan sepatu.

Kejadian itu tampak bertentangan dengan logika belanja: barang yang jarang digunakan semestinya lebih awet. Logika tersebut benar untuk keausan karena gesekan, tetapi tidak selalu benar untuk penuaan bahan. Ada kerusakan yang berjalan sekalipun sepatu diam di lemari.

Yang aus karena langkah berbeda dari yang rusak karena waktu

Ketika sepatu dipakai berjalan, permukaan sol bergesekan dengan jalan. Pola tapaknya perlahan menipis. Pemilik bisa melihat dan memperkirakan kerusakannya dari frekuensi pemakaian. Itulah sebabnya orang cenderung menganggap sepatu yang masih tebal sebagai sepatu yang masih kuat.

Namun sebagian sol dibuat dari poliuretan atau PU. Bahan ini dipilih karena dapat dibuat ringan, lentur, dan nyaman. Pada formulasi tertentu, terutama jenis poliester, rantai polimernya rentan mengalami hidrolisis: reaksi dengan air, termasuk kelembapan udara, yang memutus ikatan kimia dalam material. Ketika jaringan bahan melemah, sol dapat menjadi rapuh dan hancur saat menerima tekanan.

Penjelasan teknis produsen alas kaki Safety Jogger mengenai hidrolisis menyebut panas dan kelembapan sebagai faktor yang mempercepat proses ini. Kajian mengenai poliuretan untuk sol sepatu yang terbit pada 2021 juga membedakan ketahanan hidrolisis jenis poliester dan polieter. Keduanya tidak berarti semua sepatu memiliki masa pakai yang sama atau semua kerusakan sol pasti hidrolisis.

Bayangkan dua pasang sepatu dengan usia kalender serupa. Yang pertama disimpan di lemari tertutup dekat dinding lembap. Yang kedua berada di tempat kering dengan sirkulasi udara memadai. Walau keduanya jarang dipakai, lingkungan penyimpanannya berbeda. Riwayat bahan dan kondisinya bisa lebih menentukan daripada jumlah langkah.

Lemari yang rapi belum tentu tempat penyimpanan yang baik

Kotak sepatu dapat melindungi dari debu dan benturan. Tetapi kotak tidak otomatis membuat udara di dalamnya kering. Jika sepatu dimasukkan saat masih basah, atau ruangan tempat menyimpan terus lembap, lingkungan di sekitar sol tetap memungkinkan penuaan bahan tertentu.

Di wilayah beriklim hangat dan lembap, persoalan ini patut diperhatikan, tetapi tidak perlu diubah menjadi kepastian bahwa semua sepatu akan rusak dalam hitungan tahun tertentu. Jenis polimer, formulasi pabrik, umur sejak produksi, suhu, kelembapan, dan cara penyimpanan memengaruhi ketahanannya. Bahan karet, kulit, EVA, dan PU pun tidak boleh diperlakukan seolah semuanya bereaksi sama.

Ada pembalikan yang menarik: menyimpan sepatu mahal untuk “menyelamatkan” usia pakainya justru bisa membuat pemilik kehilangan kesempatan menggunakan barang itu ketika kondisinya masih baik. Harga tinggi bukan perlindungan otomatis terhadap proses kimia. Sebaliknya, memakai sepatu setiap hari juga bukan jaminan awet; abrasi dan benturan tetap mengikisnya.

Sol terlepas tidak selalu berarti hidrolisis

Ketika bagian bawah sepatu lepas, penyebabnya bisa berada pada sambungan perekat, jahitan, desain, atau kerusakan akibat panas dan air. Hidrolisis lebih relevan jika bahan sol tertentu menjadi rapuh, retak, atau seperti berbutir. Keduanya dapat terlihat mirip bagi orang yang hanya melihat sepatu setelah rusak.

Karena itu, pemeriksaan sebelum memakai sepatu lama perlu lebih teliti daripada melihat warnanya. Tekan sol dengan hati-hati, lihat apakah ada bagian yang mengelupas, periksa sambungan dengan badan sepatu, dan perhatikan retakan yang tidak wajar. Jangan memaksakan sepatu yang solnya sudah lemah untuk berjalan jauh, menaiki tangga licin, atau mengendarai kendaraan.

Perbaikan juga tidak selalu setara dengan mengganti lem. Bila hanya perekat yang gagal dan bahan masih kuat, tukang sepatu mungkin dapat menilai opsi perbaikan. Tetapi jika struktur solnya sendiri sudah hancur, merekatkan kembali lapisan rapuh belum menyelesaikan persoalan utama. Keputusan memperbaiki harus mempertimbangkan keamanan dan kondisi bahan, bukan semata nilai sentimental sepatu.

Menghitung nilai barang dari umur yang benar-benar bisa digunakan

Saat membeli sepatu untuk disimpan, orang sering membayangkan umur pakai dimulai pada hari pertama dipakai. Padahal bagi beberapa material, proses penuaan dimulai lebih awal. Barang memiliki umur kalender sekaligus umur penggunaan; keduanya tidak selalu bergerak dengan kecepatan sama.

Langkah yang masuk akal bukan membuang semua sepatu lama, melainkan menyimpan dalam kondisi bersih dan kering sesuai petunjuk produsennya, menghindari tempat panas atau lembap, serta memeriksa kembali sebelum dipakai. Untuk koleksi yang sangat lama, periksa juga material solnya, bukan hanya kulit atau kain bagian atas.

Sepatu yang tampak baru tetapi gagal saat digunakan mengajarkan satu hal yang konkret: ketahanan tidak selalu terlihat dari seberapa sedikit barang dipakai. Kadang yang perlu diperiksa justru apa yang terjadi pada bahannya ketika kita mengira tidak ada apa-apa yang terjadi.

Jika sol ternyata sudah rapuh, keputusan memperbaiki atau mengganti sebaiknya mengikuti kondisi material, bukan hanya tampilan luarnya. Pertimbangan biaya dan ketidakpastian perbaikan dibahas lebih jauh dalam mengapa barang yang masih bisa diperbaiki sering keburu dibuang. Untuk sepatu yang terus disimpan meski tak lagi aman dipakai, ada sisi keputusan berbeda dalam mengapa barang yang belum dipakai tetap susah disingkirkan.

Untuk pembahasan lain tentang cara manusia menilai barang, waktu, dan keputusan sehari-hari, tersedia kajian Hukum Semesta di YouTube.

LANJUTKAN DI YOUTUBE

Artikel ini memberi satu pintu masuk. Channel Hukum Semesta membahas pola hidupnya lebih panjang dan lebih dalam.

Lanjut ke YouTube