Ada keputusan yang bikin kita lebih nyaman nggak ngapa-ngapain.
Bukan karena diam pasti lebih aman. Kadang karena kalau kita bertindak lalu hasilnya jelek, rasa tanggung jawabnya terasa lebih nempel. Kalau kita diam dan hasilnya sama-sama jelek, kepala bisa berkata, “ya gue kan nggak melakukan apa-apa.”
Padahal tidak bertindak juga keputusan.
Dalam riset judgment and decision making, pola ini dikenal sebagai omission bias. Baron dan Ritov pada 1994 menunjukkan bahwa dalam berbagai skenario, tindakan yang menghasilkan akibat buruk cenderung dinilai lebih buruk daripada tidak bertindak yang menghasilkan akibat buruk. Mereka juga menunjukkan bahwa omission bias berbeda dari sekadar mempertahankan status quo.
Jadi rasa aman dari diam bisa datang dari cara kita menilai tanggung jawab, bukan dari kualitas hasilnya.
Tindakan terasa punya sidik jari
Kalau lo menekan tombol dan sesuatu rusak, hubungan antara keputusan dan akibat terasa jelas.
Kalau lo nggak menekan apa-apa lalu sesuatu rusak, hubungan itu terasa lebih kabur.
Secara psikologis, tindakan punya “sidik jari” yang lebih mudah dilihat.
Itu sebabnya orang bisa menyesali tindakan tertentu lebih keras daripada kelalaian, bahkan ketika konsekuensinya perlu dinilai dengan ukuran yang sama.
Masalahnya, dunia nyata nggak selalu peduli apakah akibat muncul karena tindakan atau diam.
Tagihan yang tidak dicek tetap bisa kena denda. Masalah kerja yang tidak dibicarakan tetap bisa membesar. Risiko yang tidak diperiksa tetap bisa terjadi.
Ini beda dari pilihan bawaan
Hukum Semesta pernah membahas kenapa pilihan bawaan sering kita biarkan begitu saja. Default effect menjelaskan kenapa orang cenderung mempertahankan opsi yang sudah menjadi posisi awal.
Omission bias beda.
Di sini pusat masalahnya adalah cara kita menilai akibat dari bertindak versus tidak bertindak.
Keduanya bisa muncul bersamaan, tapi bukan fenomena yang sama. Lo bisa menolak bertindak walau tidak ada default sama sekali, hanya karena takut tindakan itu membuat lo terasa lebih bertanggung jawab kalau hasilnya jelek.
Diam juga perlu dihitung sebagai pilihan
Ada cara sederhana buat mengaudit keputusan semacam ini.
Tuliskan dua jalur dengan bahasa yang setara.
Jalur satu: “gue melakukan X, lalu risiko A bisa terjadi.”
Jalur dua jangan ditulis “gue nggak melakukan apa-apa.” Tulis lebih jujur: “gue memilih tidak melakukan X, lalu risiko B bisa terjadi.”
Perubahan kalimat kecil ini penting karena mengembalikan kelalaian ke tempat yang benar: sebagai salah satu opsi.
Setelah itu bandingkan konsekuensi, bukan rasa bersalah.
Apa peluang kerugiannya? Seberapa besar dampaknya? Apakah keputusan bisa dibalik? Apakah ada informasi tambahan yang bisa dicari? Apakah menunda benar-benar memberi manfaat atau cuma memindahkan risiko ke nanti?
Bukan berarti tindakan selalu lebih baik
Omission bias bukan alasan untuk jadi orang yang asal bergerak.
Kadang tindakan memang lebih berbahaya. Kadang menunggu adalah pilihan paling masuk akal. Kadang informasi belum cukup.
Yang dibongkar di sini bukan “diam itu salah”, tapi anggapan bahwa diam otomatis netral.
Kalau keputusan besar, ketidakaktifan juga perlu masuk ke tabel konsekuensi.
Itu berlaku untuk kerja, uang, relasi, perawatan barang, dan banyak keputusan harian.
Tanggung jawab bukan cuma soal apa yang lo lakukan
Dalam cara pandang Hukum Semesta, semesta adalah ciptaan Allah. Ikhtiar bukan berarti bergerak membabi buta. Tapi tanggung jawab juga bukan cuma menghitung tindakan yang kelihatan.
Kadang pilihan paling berisiko justru yang terasa paling bersih karena kita tidak menyentuh apa-apa.
Kalau lo lagi bimbang, jangan tanya cuma, “apa risiko kalau gue bertindak?” Tambahkan satu pertanyaan yang sering hilang: “apa risiko kalau gue memilih diam?”
Baru setelah dua sisi sama-sama kelihatan, keputusan bisa dinilai lebih jujur.
Kalau lo suka pembahasan tentang keputusan, tanggung jawab, kerja, uang, dan bias yang bikin kita salah membaca risiko, lanjut ke Channel Hukum Semesta di YouTube.
