Kenapa Setelah Memilih Kita Cenderung Membela Pilihan Sendiri?

Choice-supportive memory distortion membuat kita cenderung mengingat pilihan sendiri lebih baik dan pilihan yang ditolak lebih buruk daripada yang sebenarnya.

PILIHAN BISA MENGUBAH INGATAN
Visual editorial: Kenapa Setelah Memilih Kita Cenderung Membela Pilihan Sendiri?

Sebelum beli barang, lo bisa ragu setengah mati. Bandingin spesifikasi, harga, ulasan, garansi. Begitu pilihan sudah dibuat, tiba-tiba barang yang lo beli terasa makin benar dan pilihan sebelah kelihatan makin banyak kurangnya.

Sebagian dari itu mungkin memang hasil evaluasi ulang yang masuk akal.

Tapi ada juga pola memori yang bisa ikut bekerja.

Mather, Shafir, dan Johnson pada 2000 menemukan apa yang disebut choice-supportive memory distortion. Dalam eksperimen mereka, orang cenderung mengingat lebih banyak fitur positif pada opsi yang sudah dipilih dan lebih banyak fitur negatif pada opsi yang ditolak. Bahkan sebagian detail bisa salah ditempatkan dengan arah yang mendukung keputusan sendiri.

Jadi keputusan yang sudah dibuat bukan cuma menutup pilihan. Kadang dia ikut memoles cara kita mengingat pilihan itu.

Ingatan bukan arsip netral

Kita sering memperlakukan memori seperti folder.

Seolah semua informasi yang pernah dibaca tetap tersimpan rapi dan saat dibutuhkan tinggal dibuka lagi.

Padahal memori manusia direkonstruksi. Saat mengingat keputusan lama, informasi bisa tercampur dengan fakta bahwa kita tahu hasil akhirnya: “gue memilih A.”

Pengetahuan itu bisa menjadi petunjuk saat otak menyusun ulang detail. Fitur positif terasa lebih cocok ditempel ke pilihan yang kita ambil. Fitur negatif lebih mudah terasa milik opsi yang kita tinggalkan.

Masalahnya, setelah beberapa waktu, kita bisa yakin bahwa versi memori itu memang fakta sejak awal.

Ini beda dari sunk cost

Hukum Semesta pernah membahas kenapa susah berhenti karena sudah terlanjur keluar uang. Itu sunk cost: biaya yang sudah keluar membuat kita berat berhenti meski keputusan berikutnya seharusnya dinilai dari kondisi sekarang.

Choice-supportive memory beda.

Di sini masalahnya bukan biaya yang sudah hangus. Yang berubah adalah cara kita mengingat kualitas pilihan lama.

Lo bisa membela keputusan yang nggak mahal sama sekali hanya karena memori sudah memberi pilihan itu cat yang lebih bagus.

Ini bisa bikin belajar dari kesalahan jadi susah

Kalau setiap keputusan lama otomatis terlihat lebih masuk akal di kepala, evaluasi jadi pincang.

Misalnya lo memilih vendor karena merasa komunikasinya paling cepat. Tiga bulan kemudian proyeknya berantakan. Waktu rapat evaluasi, lo masih ingat vendor itu sebagai pilihan yang “dari awal paling lengkap”, padahal catatan lama menunjukkan ada kelemahan yang sebenarnya sudah kelihatan.

Kalau evaluasi cuma mengandalkan ingatan, kesalahan awal bisa ikut dicuci bersih.

Makanya keputusan penting sebaiknya punya jejak sebelum hasil diketahui.

Catat alasan memilih. Catat risiko yang sudah terlihat. Catat alternatif yang ditolak dan kenapa.

Bukan buat bikin hidup kayak ruang sidang. Buat mencegah otak menulis ulang sejarah terlalu nyaman.

Gunakan catatan sebelum keputusan, bukan cerita setelah kejadian

Ada perbedaan besar antara “kenapa gue memilih ini waktu itu?” dan “apa yang gue tulis sebelum memilih?”

Pertanyaan pertama mengandalkan rekonstruksi.

Pertanyaan kedua punya bukti.

Untuk keputusan yang punya biaya, risiko, atau dampak panjang, catatan singkat sudah cukup. Tiga alasan memilih. Dua risiko. Satu kondisi yang akan membuat keputusan perlu ditinjau ulang.

Nanti, kalau hasilnya bagus atau jelek, lo bisa melihat apakah proses awalnya memang bagus atau cuma kebetulan berakhir bagus.

Itu penting karena keputusan bagus bisa menghasilkan hasil jelek, dan keputusan buruk kadang lolos karena keberuntungan.

Jangan pakai bias ini buat mencurigai semua keyakinan

Choice-supportive memory bukan berarti setiap kali lo suka keputusan sendiri berarti ingatan lo salah.

Kadang pilihan lo memang bagus.

Konsep ini cuma memberi satu peringatan: rasa yakin setelah memilih bukan bukti bahwa semua detail yang lo ingat masih akurat.

Dalam cara pandang Hukum Semesta, semesta adalah ciptaan Allah. Tanggung jawab bukan cuma berani memilih, tapi juga berani mengaudit pilihan tanpa mengedit masa lalu supaya ego tetap nyaman.

Kalau keputusan lama memang tepat, catatan akan membantu membuktikannya. Kalau ternyata salah, catatan juga bisa menunjukkan bagian mana yang perlu diperbaiki.

Belajar butuh ingatan. Tapi untuk keputusan penting, belajar lebih aman kalau ingatan ditemani bukti.

Kalau lo suka pembahasan tentang pilihan, uang, kerja, dan cara pikiran membela keputusan sendiri, lanjut ke Channel Hukum Semesta di YouTube.

LANJUTKAN DI YOUTUBE

Artikel ini memberi satu pintu masuk. Channel Hukum Semesta membahas pola hidupnya lebih panjang dan lebih dalam.

Lanjut ke YouTube