Kenapa Pekerjaan Rumah Terasa Tidak Adil Meski Sudah Dibagi?
Pada hari Minggu, dua orang pasangan sepakat membagi pekerjaan rumah. Satu orang mencuci piring dan menyapu. Yang lain mencuci pakaian dan berbelanja. Di atas kertas, pembagiannya tampak masuk akal. Tetapi menjelang malam, salah satu dari mereka tetap merasa menanggung hampir seluruh urusan rumah.
Ia bukan hanya mengerjakan tugasnya sendiri. Sejak pagi, ia mengingat bahwa sabun cuci hampir habis, memperkirakan kapan seragam anak harus kering, memastikan uang belanja cukup, lalu mengingatkan pasangannya agar membuang sampah sebelum petugas lewat. Ketika semua tugas selesai, ia masih memikirkan apa yang harus disiapkan besok.
Pertengkaran mudah terjadi karena masing-masing memegang bukti yang berbeda. Satu pihak menunjukkan pekerjaan yang sudah dikerjakan. Pihak lain merasakan daftar pekerjaan yang terus berjalan di kepalanya. Keduanya bisa benar tentang pengalaman masing-masing, tetapi sedang menghitung hal yang tidak sama.
Menghitung piring berbeda dari mengingat kapan piring diperlukan
Pekerjaan rumah biasanya dihitung dari tindakan yang terlihat: memasak, menyapu, mengepel, mengantar anak, atau mencuci. Padahal sebuah tindakan sering didahului rangkaian keputusan kecil. Sebelum berbelanja, seseorang perlu mengetahui stok bahan, menyusun menu yang mungkin dimasak, menyesuaikan anggaran, dan menentukan waktu yang cocok.
Dalam studi kualitatif yang diterbitkan di American Sociological Review pada 2019, sosiolog Allison Daminger membedakan empat bagian pekerjaan kognitif rumah tangga: mengantisipasi kebutuhan, mencari pilihan, mengambil keputusan, dan memantau pelaksanaan. Penelitiannya menggunakan wawancara dengan anggota 35 pasangan. Temuan itu membantu memberi nama pada pekerjaan yang kerap tidak terlihat; bukan berarti semua keluarga memiliki pola atau pembagian yang sama. Sumber penelitian: Daminger, 2019.
Contohnya sederhana. Seseorang mungkin bersedia membeli beras ketika diminta. Namun orang yang terus memeriksa persediaan, mengingat harga, dan menentukan kapan harus membeli masih menjadi pengelola seluruh proses. Bantuan pada tahap terakhir belum tentu mengurangi beban pada tiga tahap sebelumnya.
Kalimat “tinggal bilang saja” memindahkan pekerjaan ke orang lain
Bayangkan seseorang berkata, “Kalau ada yang perlu dikerjakan, bilang saja.” Kalimat ini bisa tulus. Ia mungkin tidak bermaksud menghindari tanggung jawab. Masalahnya, agar permintaan itu muncul, orang lain harus lebih dulu memperhatikan kebutuhan, memutuskan prioritas, dan mengubahnya menjadi instruksi.
Di rumah yang sibuk, instruksi pun perlu diulang. Hari ini mengingatkan pembayaran iuran sekolah; besok menanyakan jadwal pemeriksaan kendaraan; lusa memastikan obat keluarga belum habis. Orang yang menjalankan tugas merasa sudah membantu. Orang yang menjadi pusat pengingat merasa tidak pernah benar-benar lepas dari pekerjaan.
Beban tersebut tidak selalu mengikuti jenis kelamin atau siapa yang bekerja di luar rumah. Jadwal kerja, kondisi kesehatan, penghasilan, kemampuan, dan pembagian peran yang disepakati memengaruhi kapasitas setiap anggota keluarga. Menganggap semua rumah harus memiliki pembagian identik juga mengabaikan kenyataan itu.
Tetapi ada perbedaan penting antara membantu ketika diperintah dan memegang tanggung jawab atas satu urusan. Yang pertama menyelesaikan tindakan. Yang kedua juga memikul kewajiban memastikan urusan itu tidak terlupakan.
Mengapa daftar tugas yang sama panjang belum menyelesaikan konflik?
Daftar tugas sering dianggap obat untuk persoalan ini. Dua kolom dibuat, lalu setiap orang mendapat jumlah pekerjaan yang seimbang. Masalahnya, satu baris “mengurus makan malam” bisa berarti memasak selama setengah jam bagi seseorang, tetapi berarti memilih menu, memperhatikan alergi anggota keluarga, berbelanja, dan memikirkan makanan besok bagi orang lain.
Daftar tersebut belum salah; ia hanya belum cukup rinci. Pekerjaan yang dapat dijadwalkan berbeda dari pekerjaan yang menuntut kewaspadaan terus-menerus. Menyapu mungkin punya waktu selesai yang jelas. Memastikan persediaan kebutuhan bayi atau anggota keluarga yang sakit tidak selalu demikian.
Sebaliknya, jangan pula menyimpulkan bahwa orang yang lebih banyak merencanakan pasti bekerja lebih berat dalam semua keadaan. Pekerjaan fisik tertentu bisa menguras tenaga, memerlukan keahlian, atau berisiko. Menjadikan beban mental sebagai alat untuk meniadakan kontribusi fisik hanya menukar satu ketidakadilan dengan ketidakadilan lain.
Pembicaraan yang lebih berguna bukan “siapa paling capek”, melainkan bagian mana dari proses yang belum punya penanggung jawab jelas.
Mengalihkan satu urusan berarti mengalihkan keputusan dan pengingatnya
Keluarga dalam contoh tadi dapat mencoba pembagian yang berbeda. Alih-alih meminta satu orang “tolong belanja”, mereka menetapkan bahwa satu orang bertanggung jawab penuh atas persediaan dapur selama periode tertentu: mengecek stok, menyusun kebutuhan, menyesuaikan anggaran bersama, berbelanja, dan mengabarkan bila ada kendala.
Tanggung jawab itu tetap memiliki batas. Keputusan besar tentang pengeluaran, kebutuhan khusus anak, atau hal yang menyangkut semua anggota keluarga tetap perlu dibicarakan. Tetapi tidak semua langkah kecil harus kembali ke orang yang sama untuk disetujui.
Setelah beberapa minggu, mereka dapat mengevaluasi apakah beban benar-benar berpindah atau hanya nama tugasnya yang berubah. Jika orang yang semula memegang seluruh urusan masih harus mengingatkan setiap tahap, pembagian baru belum berjalan. Jika satu orang kewalahan karena jadwal kerja atau kondisi kesehatan, kesepakatan juga perlu disesuaikan tanpa mempermalukannya.
Keadilan dalam rumah tangga tidak selalu tampak seperti dua daftar dengan jumlah baris sama. Kadang ia terlihat ketika satu orang akhirnya bisa berhenti memikirkan suatu urusan karena tahu orang lain benar-benar menjaganya. Itulah perubahan yang tidak dapat ditangkap hanya dengan menghitung berapa piring yang sudah dicuci.
Pembahasan lebih luas tentang tanggung jawab, hubungan manusia, dan akibat dari kebiasaan sehari-hari tersedia di kanal Hukum Semesta.
