Coba ingat diri lo sepuluh tahun lalu. Selera berubah. Cara mikir berubah. Orang yang lo anggap penting berubah. Bisa jadi pekerjaan, kebiasaan, cara pakai uang, bahkan hal yang dulu lo bela mati-matian sekarang terasa biasa aja.
Anehya, setelah mengakui semua perubahan itu, kita masih gampang merasa versi hari ini sudah lumayan final.
Dalam riset psikologi, pola ini disebut end-of-history illusion. Quoidbach, Gilbert, dan Wilson meneliti lebih dari sembilan belas ribu orang berusia delapan belas sampai enam puluh delapan tahun. Mereka menemukan pola yang menarik: orang cenderung mengakui bahwa dirinya banyak berubah selama sepuluh tahun terakhir, tetapi memperkirakan perubahan sepuluh tahun ke depan akan jauh lebih kecil.
Seolah-olah sejarah diri kita berhenti hari ini.
Masa lalu gampang dilihat, masa depan susah dibayangkan
Ada alasan sederhana kenapa ini terasa masuk akal.
Perubahan masa lalu punya bukti. Lo bisa lihat foto lama, pekerjaan lama, teman lama, keputusan lama. Masa depan belum punya bahan sebanyak itu.
Karena perubahan berikutnya belum kelihatan, kita gampang menganggap preferensi sekarang akan bertahan.
Masalahnya mulai terasa ketika keputusan hari ini dibuat seolah diri masa depan pasti ingin hal yang sama.
Quoidbach dan koleganya juga menunjukkan bahwa ilusi ini punya konsekuensi praktis. Orang bisa bersedia membayar lebih untuk kesempatan menikmati preferensi saat ini di masa depan, seolah selera itu pasti tetap sama.
Ini bukan berarti semua hal bakal berubah
Jangan kebalik.
End-of-history illusion bukan klaim bahwa identitas lo pasti berubah total tiap sepuluh tahun. Ada nilai, hubungan, kebiasaan, dan preferensi yang memang stabil.
Yang bias adalah rasa terlalu yakin bahwa perubahan besar sudah selesai.
Itu beda.
Lo nggak perlu hidup seolah semua keputusan sementara. Yang lebih berguna adalah memberi ruang bahwa versi lo lima atau sepuluh tahun lagi mungkin punya kebutuhan yang berbeda.
Kenapa ini penting buat uang dan keputusan panjang?
Bayangin lo mengambil komitmen mahal karena sekarang lagi tergila-gila pada satu hobi. Atau lo mengunci sebagian besar hidup ke satu gaya yang terasa cocok banget hari ini.
Bukan berarti komitmen panjang salah.
Masalahnya muncul kalau keputusan itu dibuat dari asumsi: “gue pasti masih mau ini persis sama nanti.”
Artikel Hukum Semesta tentang kenapa menabung untuk masa depan terasa lebih berat daripada belanja sekarang membahas present bias: manfaat hari ini terasa lebih kuat daripada kebutuhan masa depan.
End-of-history illusion beda. Di sini bukan cuma soal manfaat sekarang. Kita juga bisa salah membaca siapa diri kita di masa depan.
Kasih ruang buat versi lo yang belum datang
Kalau keputusan punya konsekuensi panjang, coba tambahkan satu pertanyaan yang jarang dipakai: “kalau selera gue berubah, seberapa mahal biaya keluarnya?”
Pertanyaan itu berguna buat langganan panjang, pembelian besar, proyek bertahun-tahun, pilihan tempat tinggal, dan komitmen lain yang sulit dibatalkan.
Bukan supaya lo takut berkomitmen.
Justru supaya komitmen dibangun dengan ruang gerak yang masuk akal.
Lo bisa tetap pilih sesuatu dengan serius sambil mengakui bahwa manusia berkembang.
Jangan pakai perubahan masa depan buat kabur dari tanggung jawab
Ada jebakan lain.
Kalimat “gue kan bisa berubah” juga bisa dipakai buat menghindari keputusan hari ini. Semua dibuat sementara, semua ditunda, semua dibiarkan terbuka.
Itu bukan pelajaran dari riset ini.
End-of-history illusion cuma mengingatkan bahwa diri sekarang bukan hakim terakhir dari seluruh hidup.
Dalam cara pandang Hukum Semesta, semesta adalah ciptaan Allah. Manusia bergerak lewat pengalaman, umur, tanggung jawab, kehilangan, belajar, dan pilihan. Lo tetap wajib bertanggung jawab pada keputusan hari ini. Tapi tanggung jawab nggak mengharuskan lo berpura-pura tahu persis siapa diri lo sepuluh tahun lagi.
Kalau keputusan lo punya umur panjang, kasih sedikit ruang buat manusia yang belum lo kenal sepenuhnya itu: diri lo sendiri di masa depan.
Kalau lo suka pembahasan tentang batin, uang, keputusan, dan perubahan manusia yang dibedah dengan kaki tetap nempel di tanah, lanjut ke Channel Hukum Semesta di YouTube.
