Bayangin dua kejadian. Pagi ini lo nemu uang Rp100 ribu di saku jaket lama. Lumayan, mood naik. Sorenya, lo sadar Rp100 ribu yang tadi disimpan ternyata hilang. Nominalnya sama. Secara hitungan sederhana, posisi lo kembali ke titik awal. Tapi perasaannya sering nggak terasa netral. Bagian yang hilang bisa jauh lebih mengganggu pikiran daripada rasa senang saat uang itu ditemukan.
Ini bukan bukti lo lemah atau terlalu materialistis. Dalam psikologi keputusan ada konsep loss aversion: kecenderungan manusia memberi bobot lebih besar pada kerugian dibanding keuntungan yang sebanding. Yang penting, konsep ini bukan rumus bahwa semua orang selalu bereaksi dengan intensitas yang sama. Konteks, kondisi keuangan, pengalaman, dan besarnya konsekuensi tetap berpengaruh.
Otak lo nggak membaca untung dan rugi sebagai dua sisi yang simetris
Saat memilih, kita jarang menilai keadaan hanya dari angka akhir. Kita juga membandingkannya dengan titik acuan: uang yang tadi kita punya, harga yang sudah kita bayar, barang yang sudah berada di tangan, atau kondisi yang kita anggap normal.
Karena itu, kehilangan Rp100 ribu dari dompet bisa terasa berbeda dari gagal mendapat bonus Rp100 ribu yang belum pernah masuk. Hasil akhirnya mungkin mirip secara nominal, tetapi titik acuannya beda. Pada kasus pertama, pikiran membaca ada sesuatu yang tadinya “milik gue” lalu berkurang.
Riset tentang pengambilan keputusan sudah lama menunjukkan bahwa framing untung-rugi dapat mengubah cara orang menilai pilihan. Itu bukan berarti keputusan manusia selalu irasional. Menghindari kerugian kadang memang masuk akal. Masalahnya muncul ketika rasa tidak mau kehilangan mengambil alih pertanyaan yang seharusnya lebih penting: dari posisi sekarang, pilihan mana yang konsekuensinya paling masuk akal ke depan?
Takut rugi bisa bikin lo mempertahankan keputusan yang sudah nggak bagus
Misalnya lo membeli barang mahal lalu beberapa bulan kemudian sadar barang itu hampir nggak pernah dipakai. Ada tawaran untuk menjualnya dengan harga lebih rendah. Secara emosional, selisih harga itu terasa seperti pengakuan bahwa lo rugi. Akhirnya barang tetap disimpan bertahun-tahun, walau tidak memberi manfaat berarti.
Di sini loss aversion bisa bertemu dengan bias lain. Kalau masalahnya adalah “gue sudah keluar banyak, jadi harus lanjut”, itu lebih dekat ke sunk cost. Kalau barang terasa lebih berharga hanya karena sudah menjadi milik lo, itu dekat dengan endowment effect. Mekanismenya beririsan, tapi jangan dicampur seolah semuanya satu hal.
Kalau lo sering susah melepas benda yang sebenarnya sudah nggak dipakai, baca juga kenapa barang lama susah dilepas meski sudah nggak dipakai. Di sana fokusnya bukan uang yang hilang, melainkan bagaimana kepemilikan mengubah penilaian kita terhadap barang.
Iklan dan promo sering membungkus keputusan sebagai “jangan sampai kehilangan”
Perhatikan bedanya dua kalimat: “lo bisa dapat potongan harga” dan “diskon ini hilang malam ini”. Nilai promonya bisa sama, tetapi kalimat kedua menggeser perhatian dari manfaat yang mungkin didapat ke sesuatu yang terasa akan diambil kalau lo tidak segera bertindak.
Bukan berarti semua promo menipu. Diskon nyata tetap bisa berguna. Yang perlu diperiksa adalah apakah rasa takut kehilangan kesempatan membuat lo berhenti menilai kebutuhan, harga total, dan alternatif.
Sebelum membeli karena takut promo lenyap, ubah pertanyaannya. Jangan mulai dari “berapa yang gue hemat kalau beli sekarang?” Mulai dari “kalau promo ini nggak ada, apakah gue tetap butuh barangnya?” Kalau jawabannya tidak, diskon besar belum tentu membuat pengeluaran itu menjadi keputusan yang baik.
Untuk masalah uang yang justru bocor lewat transaksi kecil berulang, mekanismenya beda. Lo bisa lanjut ke kenapa uang cepat habis padahal nggak belanja besar untuk melihat bagaimana frekuensi transaksi bisa menghilang dari perhatian.
Pisahkan kerugian yang sudah terjadi dari keputusan berikutnya
Saat sesuatu sudah turun nilainya, rusak, atau terlanjur dibeli, lo nggak selalu bisa mengembalikan keadaan ke titik awal. Tapi keputusan berikutnya masih bisa diperiksa tanpa harus pura-pura kerugian itu nggak menyakitkan.
Coba pakai tiga pertanyaan. Apa yang benar-benar gue miliki sekarang? Apa biaya dan manfaat kalau gue mempertahankan pilihan ini? Kalau gue belum pernah memiliki benda atau keputusan ini, apakah gue mau mengambilnya hari ini dengan kondisi yang sama?
Pertanyaan terakhir berguna karena memaksa titik acuan bergeser dari masa lalu ke keadaan sekarang. Bukan untuk menghapus emosi, melainkan supaya emosi tidak menjadi satu-satunya hakim.
Dalam cara pandang Hukum Semesta, semesta adalah ciptaan Allah. Hidup tetap berisi sebab, akibat, keterbatasan, pilihan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol sepenuhnya. Menerima kerugian bukan berarti pasrah pada semua keadaan. Kadang justru pengakuan yang jernih membuat kita berhenti membayar biaya tambahan hanya demi mempertahankan perasaan bahwa keputusan lama harus terlihat benar.
Kalau lo ingin membedah pola uang, keputusan, kebiasaan, dan perilaku manusia dengan pendekatan yang grounded, buka Channel Hukum Semesta di YouTube.
Catatan: artikel ini merupakan edukasi keuangan dan perilaku secara umum, bukan nasihat finansial, investasi, atau rekomendasi transaksi personal. Kondisi keuangan, toleransi risiko, kewajiban, dan kebutuhan setiap orang berbeda.
